JADILAH NOMOR SATU

Rabu, 29 April 2015

bahan kotbah mei


SEMUA DIGERAKKAN OLEH  RUH
Minggu Pentakosta/Turunnya Roh Kudus
Untuk tanggal 24 Mei 2015

Pengantar
Pentakosta, salah satu ritus perayaan agama Yahudi yang diadopsi oelh gereja. Karena mengadopsi perayaan agama lain, maka beberapa hal pokok dan substansial masih tetap dipertahankan dengan memberi makna yang baru. Mungkin memang sejak dahulu, persoalan “Kontekstualisasi” (yang sekarang kembali dipopulerkan) adalah sebuah keniscayaan bagi agama ataupun budaya (karena memang agama adalah anak kandung budaya). Sejarah pentakosta, dalam Perjanjian Lama, adalah sebuah ritus atau upacara keagamaan berangkat dari tradisi agraris yang sangat kuat, oleh karenanya pentakosta adalah pesta panen yang didahului oleh pesta/perayaan hara raya pondok daun.
Dari catatan sekilas ini semoga semua yang membaca menjadi memiliki sedikit gambaran tentang sejarah munculnya Pentakosta. Dengan demikian, ketika sekarang mempraktekannya tidak membabi buta, meliankan dengan penuh semangat untuk menghargai tradisi warisan,memberi makna baru dan mengambil makna itu untuk “Ruh” atau spirit kehidupan baik hidup secara sosial maupun secara rohani.
Tulisan ini adalah sebuah bahan kasar untuk pengayaan/belajar bersama para calon pengkotbah yang akan melayani ibadah, maka secara sederhana akan ada tafsiran (juga sederhana) terhadap bacaan-bacaan untuk ibadah. Kebetulan, gereja sudah mulai mengenal kembali warisan tradisi gereja mula-mula tentang daftar bacaan/leksionari Alkitab. Maka di bawah ini akan ada catatan-catatan kritis (tafsiran sederhana) untuk bacaan Alkitab dan kemudian akan dicari point point yang sesuai dengan perayaan iman dan dikontekstualisaikan dengan kondisi gereja.

Bacaan 1
Yehezkiel 37:1-14
Latar belakang teks ini adalah keberadaan bangsa Israel ( tidak semua,namun hanya sebagian saja) yang sedang dalam pembuangan Babel pada kisaran tahun 593-571 sebelum masehi. Sebagai bangsa yang dibuang, tentunya mengalami berbagai macam persoalan hidup yang teramat berat, malah saking beratnya penulis kitab ini (mungkin Yehezkiel sendiri atau mazhabnya) memberikan  gambaran yang sangat mengerikan. Gambaran itu adalah Sebuah Lembah dengan berserakannya tulang-tulang kering. Kalau dilihat dari gaya bahasnya, kemungkinan maksut penulis dengan perumpamaan itu adalah:
1.   Supaya pembaca/pendengar bisa merenungkan maksut yang terkandung dari surat itu, kemudian meresap (dalambahasa teman saya adalah proses pembatinan).
2.   Kemungkina Raja penjajah yang sedang berkuasa dan paham bahasa Ibrani, sehingga penulis perlu menggunakan kiasan-kiasan untuk penyampaian berita. Jika tidak menggunakan kiasan, bisa jadi surat itu tidak sampai karena disensor oleh penguasa. Ingat jaman orde baru???
3.   Memang mungkin si penulis adalah seorang sastrawan sehingga menggunakan model kiasan untuk menyampaikan pesannya. Dari ketiganya,saya akan mengabmbil pendekatan nomor dua, bahwa penguasa galak dan oleh karenanya perlu menggunakan bahasa kiasan.
Kiasan itu,hendak menyadarkan sekaligus memberikan sebuah harapan baik untuk kaum yang dibuang agar tetap bersemangat. Memang mungkin mereka sedang dalam keadaan maha sulit sehingga digambarkan tulang yang berserakan, namun dengan keadaan speerti itu tidak harus menjadikan umat bersedih. Umat bisa sadar dan berharap bahwa tulang itu akan hidup jika ada ruh yang menghidupinya. Pengharapan menjadi tema pokok teks ini, dengan pengharapan maka hidup akan bergairah.
Harapan dan kehidupan itu bisa terwujud bila ada ruh yang menghidupi.

Mazmur 104:24-34,35b
Madah indah dalam Mazmur 104 ini adalah sebuah kesaksian akan pengalaman yang mengkristal menjadi sebuah iman yang kuat. Mazmur ini berisikan pengalaman hidup penulis bahwa semua yang ada itu tercipta oleh Tuhan dan dengannya kehidupan berjalan dengan harmonis. Pokok utamanya adalah Roh Tuhan adalah sumber keidupan. Dengan jelas dan tegas pemazmur mengungkapkan bahwa saat Ruh Tuhan dikirimkan maka semua akan hidup dan diperbaharui.
Ruh itulah yang mmeperbaharui,betapa luar biasanya kesadaran pemazmur.

Roma 8:22-27
Hidup ini adalah perjuangan. Demikian slogan yang pernah muncul dari pergumulan beberapa komunitas kehidupan. Dan memang benar, hidup ini adalah perjuangan, perjuangan untuk bertahan hidup dari berbagai macam persoalan yang terkadang terasa teramat berat.
Menghadapi keadaan yang demikian, Paulus bersurat kepada jemaat Roma bahwa semua mpersoalan itu pernah dialami oleh semua orang,yang penting adalah bagaiama umat Tuhan menyelesaikannya dengan pertolongan Ruh Tuhan.

Yohanes 15;26-27,16:4b-15
Tema Pentakosta kuat dalam bacaan ini. Dari janji Tuhan Yesus bahwa sesudah Ia naik ke sorga, maka Yesus akan “Mengada” dengan cara berbeda dengan istilah Roh Penghibur (yun Parakletos). Dengan janji ini maka umat( para murid tidak usah kuatir karena tetap akan ditemanI Tuhan Yesus meski dengan cara yang berbeda.
Catatan penting yang terkait erat dengan tema dan perayaan iman adalah bahwa Ruh itu yang akan menuntun kita kepada kebenaran dan memimpin kita semua (kamu dalam bahasa Alkitab)kepada seluruh kebenaran .

Point-point untuk bahan kotbah
1.   Masalah adalah bumbu kehidupan manusia, entah besar ataupun kecil. Namun Tuhan selalu berjanji untuk memulihkan (menghembusi tulang-tulang dengan Ruh) ke keadaan yang lebih baik
2.   Kekuatan Ruh itu sangat dasyat, sehingga ia bisa mencipta sega yang ada (mazmur)
3.   Iman bukan sekedar dimengerti namun mesti dijalani. Orang  yang beriman pasti berbeda memandang penderitaan, karena baginya penderitaan adalah kelengkapan hidup,jadi tidak usah ditangisi dan disesali. Jika bisa tersenyum saat masalah menerjang, maka iman dia sungguh sangat kuat.
4.   Yesus berjanji bahwa diriNya akan kembali dalam rupa berbeda, Ruh Kudus Sang Penghibur (parakletos). Ruh itu yang akan memimpin ke dalam semua kebenaran.
Usulan Ilustrasi
1.   Kisah seorang pemuda yang enggan mengantarkan ibunya belanja karena alasan capek namun kemudian malah mengantarkan cewek taksirannya nyumbang sejauh 31 km padahal ke pasar hanya 2 km. Betapa “Ruh Cinta dan Harapan” mengalahkan keletihan
2.   Kisah pohon mangga yang sulit berbuah namun setelah diberi nutrisi perangsang buah menjadi lebat berbuah, butuh ruh yang menggerakkan untuk berbuah
Penutup
Yang tertulis itu hanya sebuah sketsa, namanya sketsa pasti tidak akan sempurna, maka silakan menyempurnakannya dengan kuas-kuas dan cat kemampuan para pembaca semua.


















Minggu 31 Mei
Tema “Alah Yang Memberdayakan”

Pengantar
Kebanyakan orang akan berdalih untuk melakukan apa-apa selain dari kehendak dan kemauannya sendiri. Selalu ada 1001 macam alasan, bahkan saat apa yang hendak diperintahkan itu adalah kehendak Allah, msih banyak orang yang mencoba menghindar (dalam bahasa jawa endo)
Ini menjadi fenomena yang menarik,jika memang manusia yakin bahwa melalui gerejanya, Tuhan berkenan hadir dan berkehendak, mengapa masih saja banyak yang menolak?

Bacaan I
Yesaya 6:-1-8
Narasi tentang dinamika sebuah panggilan. Yesaya menarasikan tentang posisi Yang Illahi,atau Tuhan yang di tempat Maha Tinggi dengan segala kemegahan dan penjaga serta hamba. Dengan narasi ini, sejatinya penulis kitab ini hendak mengajak pembaca melihat dua sisi indah ziarah iman yang bertemakan PANGGILAN.
Meski Allah adalah maha segala-galanya, namun ketika mencoba mengutus manusia (Yesaya) maka manusia itu masih saja mencari berbagai alasan untuk menghindari panggilan perutusan itu. Dinarasikan denga eksplisit bagaiman terjadi negosiasi (dalam bahasa jawa nyang-nyangan) sebelum saling sepakat. Perlu dimengerti bahwa dalam tradisi Yudaisme, Tuhan bisa dinego. Masalah benar atau salah bukan urusan kita, karena budaya Yudaisme mengajari demikian. Beberapa tokoh pernah  mengakan negosiasi dengan Yang Illahi. Abraham, Hizkia dan juga Musa (lihat Alkitab)
Menarik sekali untuk diteliti lebih detai bahwa narasi penggilan Yesaya ini ber-ending menyenangkan karena Yesaya akhirnya berjanji atau mengungkapkan janji imannya dengan baik, bahkan formulasi janji iman Yesaya ini di kemudian hari, di sebuah negeri yang jauh dari Timur Tengah dijadikan sebuah lagu populer, “Ini Aku Utuslah Tuhan”
Perutusan manusia oleh Tuhan untuk tugas penggilan melanjutkan karya Illahi tidak serta merta dijawab iya, namun butuh proses panjang. Maka, menjadi penting bagi kita semua, apakah saat ini telah,sedang atau akan dipanggilNya dan kemudian berani bernegosiasi dengan Sang Illahi untuk kemudian melakukannya dengan baik dan benar semua perintah dan kehendakNya?

Mazmur 29
Puisi atau madah Indah karya Daud (atau mazhabnya). Dan di pasal 29 ini, kita diajak oleh pemazmur untuk bertamasya ke ranah hidup yang –mungkin- tidak disukai oleh kebanyakan manusia. Pemazmur mengajak kita semua menikmati penegalaman penyertaan Tuhan dalam sulitnya kehidupan yang digambarkan dengan air bah, suara menggelegar,nyala api dan yang lainnya. Maksut pemazmur mungkin hendak memberikan alternatif kepada pembaca bahwa Tuhan tidak hanya ada dalam kelembutan dan ketenangan, numun dalam keadaan yang menakutkanpun Dia ada dan selalu menyertai. Besar kemungkinan mazmur ini ditulis sewaktu Daud sudah Adi Yuswa, sehingga semua tulisannya berangkat dari pengalama dan bukan dari perencanaan.
Dari narasi puisi ini, kita bisa melihat betapa sejatinya dalam segala keadaan dan kondisi, Tuhan ada dan bersedia untuk menolong dan menuntun meski manusia menyoraki dan bahkan mempersalahkannya.

Bacaan II
Paulus menggunakan metafora relasi antara manusia dengan manusia dalam dunia perdagangan,yaitu hutang-piutang untuk  menggambarkan relasi umat dengan Tuhan. Namun perspektifnya berbeda, Paulus mengimani bahwa Kasih Tuhan itu tulus, untuk menyelamatkan manusiadengan menyerahkan hidupNYa, namun seringkali manusia mau menang sendiri. Yang enak-enak membuat ingat akan Tuhan, namun kalau ada yang berat-berat kemudian lari tunggang langgang meninggalkannya.

Situasi sulit dalam kehidupan ini adalah sebuah kepastian namun bagaimana mengatasinya adalah sebuah pilihan. Paulus kemudian menjelaskan bahwa kondisi “Keberhutangan” itu bukan dalam posisi negatif, namun justru positif. Hutang karena telah ditebus (Teologi GKJ bahwa manusia tidak bisa menebusnya sendiri/menyelamatkan diri sendiri) dari semua tanggungan dosa. Dengan konsep hutang maka Paulus ingin memberi penjelasan sedekat mungkin dengan dunia budaya umat pada waktu itu bahwa memang hutang harus di bayar. Pembayarannya adalah dengan membaktikan hidup pada kebaikan, karena menurut Paulus, ruh yang diterima setelah dilepaskan dari dosa adalah ruh yang menjadikan umat menjadi anak Allah dan dengan posisi sebagai anak inilah maka umat bisa memanggilNya Abba Bappa.

Bacaan Injil dari Yohanes 3:1-17
Narasi dialog antara Yesus dan Nicodemus. Isi dari percakapan itu adalah di sekitar Kemampuan Melihat Kerajaan Allah dan Kelahiran Kembali. Yesus  menggunakan metafora lahir kembali atau lahir baru yang di kemudian istilah ini populer (bahkan sangat) di kalangan kristen. Sedikit-sedikit selalu istilah kelahiran baru dimunculkan. Sejatinya ini sama dengan pencerahan yang dalam bahasa Jerman aufklarung. Dalam bahasa yang lebih sederhana namun mendalam Antony De Mello dalam salah satu tulisannya mengungkapkan perspektif lkelahiran baru dengan memberikan perumpamaan seorang guru mengajak muridnya ke tepian sebuah sungai. Murid itu ingin diajari apa itu pencerahan,dan sewaktu diajak sang guru ke tepian sungai  dia bingung. Kemudian ditanya,apa yang kau dengar?Dijawan bahwa hanya mendengar gemericik air. Kemudian guru itu mengajanya pulang,esoknya kembali diajak ke tempat yang sama dengan tindakan dan pertanyaan yang sama. Semakin bingung si murid karena dia ingin tahu tentang pencerahan, kemudian sang guru memberikan pengajarannya, bahwa sewaktu melihat dan mendengar gemericik air dan kemudian bisa merasakan kedamaian dan keteduhan,maka disitulah Tuhan ditemukan.
Demikian juga dengan Yesus terhadap Nicodemus, sepanjang masih berkutat dalam “Tempurung Agama”nya, mustahil bisa melihat Tuhan. Sepanjang masih berkutat denganpaham kesekengan dan ketidak mampuan,mustahil akan berguna baik untuk dunia, justru yang ada adalah spiritualitas pelit dan menghiba di mana-mana.
Kelahiran baru,bukan secara dunia atau biologis namun perubahan total sikap dan tindakan hidup. Dari yang selalu meminta dimengerti menjadi yang selalu mengerti dan memahami yang lain, dari yang sukanya ngritik dan maido karena tidak puas menjdi terbuka untuk dikritik dan tidak nesu. Itulah kelahiran baru,dan jika gereja masih “Konsisten” dengan langgam hidupnya, maka narasi percakapan Yesus dan nikodemus ini tidak akan berarti sampai kapanpun.

Sugesti penyusunan kotbah
1.   Panggilan perubahan itu akan selalu menggaung hebat dalam hidup dan kehidupan manusia. Seperti Yesaya,sering manusia menolak dengan berbagai alasan,namun pada akhirnya menerima. Perlu sadar akan “Teologi Negosiasi” gaya Yuadisme untuk mengerti proses ini. Maka ajaklah jemaat untuk menyadari bahwa panggilan itu akan tertuju kepada semua umat.
2.   Bawalah jemaat menyadari kehadiran Tuhan seperti pengalaman Daud bahwa dalam badai dan air bahpun Tuhan akan selalu hadir dan menolong.
3.   Ingatkan umat bahwa kita sejatinya berhutang dan oleh karenanya harus membayar. Hutang keselamatan itu harus dibayar denganketaatan dan kesediaan melanjutkan karya Yesus yang telah mengaruiniakan Ruh untuk membuat kita menjadi anakNya.
4.   Kelahiran baru memang istilah paling laku dalam konteks kekristenan di Indonesia, meski sulit dipahami. Maka, saya mengusulkan istilah Kelahiran Baru/lahir baru itu dengan perubahan paradigma kehidupan.

Usulan Ilustrasi
1.   Berhubung Akik menjadi primadona dalam beberapa waktu terakhir, boleh jadi ini dipakai sebagai pembuka/ilustrasi/gerbang masuk. Sebelum laku dengan mahal,jarang orang yang tidak hobby banget mau berurusan dengan akik,namun sekarang karena paradigmanya berubah, akik bukan sebagai lambang keanggunan melainkan sebagai tambang cari uang, maka semua berburu akik.
2.   Kisah seorang pemimpin PA yang enggan diganti meski ada pendeta kondang datang. Bagi pemuda sang pemimpin PA itu memimpin ibadah adalah Berkat dan Karunia, kesempatan untuk NYAUR UTANG, lha kalau diganti kan utangnya masih?Beda dengan kita, kalau ada yang mengganti,wawww...asyoikkk..

Sekian dan Salam
Doni Setyawan
http://sederhanadansehat.blogspot.com/
































Tidak ada komentar:

Posting Komentar