SEMUA
DIGERAKKAN OLEH RUH
Minggu Pentakosta/Turunnya Roh Kudus
Untuk tanggal 24 Mei 2015
Pengantar
Pentakosta,
salah satu ritus perayaan agama Yahudi yang diadopsi oelh gereja. Karena
mengadopsi perayaan agama lain, maka beberapa hal pokok dan substansial masih
tetap dipertahankan dengan memberi makna yang baru. Mungkin memang sejak
dahulu, persoalan “Kontekstualisasi” (yang sekarang kembali dipopulerkan)
adalah sebuah keniscayaan bagi agama ataupun budaya (karena memang agama adalah
anak kandung budaya). Sejarah pentakosta, dalam Perjanjian Lama, adalah sebuah
ritus atau upacara keagamaan berangkat dari tradisi agraris yang sangat kuat,
oleh karenanya pentakosta adalah pesta panen yang didahului oleh pesta/perayaan
hara raya pondok daun.
Dari
catatan sekilas ini semoga semua yang membaca menjadi memiliki sedikit gambaran
tentang sejarah munculnya Pentakosta. Dengan demikian, ketika sekarang
mempraktekannya tidak membabi buta, meliankan dengan penuh semangat untuk
menghargai tradisi warisan,memberi makna baru dan mengambil makna itu untuk
“Ruh” atau spirit kehidupan baik hidup secara sosial maupun secara rohani.
Tulisan
ini adalah sebuah bahan kasar untuk pengayaan/belajar bersama para calon
pengkotbah yang akan melayani ibadah, maka secara sederhana akan ada tafsiran
(juga sederhana) terhadap bacaan-bacaan untuk ibadah. Kebetulan, gereja sudah
mulai mengenal kembali warisan tradisi gereja mula-mula tentang daftar
bacaan/leksionari Alkitab. Maka di bawah ini akan ada catatan-catatan kritis
(tafsiran sederhana) untuk bacaan Alkitab dan kemudian akan dicari point point
yang sesuai dengan perayaan iman dan dikontekstualisaikan dengan kondisi
gereja.
Bacaan
1
Yehezkiel
37:1-14
Latar
belakang teks ini adalah keberadaan bangsa Israel ( tidak semua,namun hanya
sebagian saja) yang sedang dalam pembuangan Babel pada kisaran tahun 593-571
sebelum masehi. Sebagai bangsa yang dibuang, tentunya mengalami berbagai macam
persoalan hidup yang teramat berat, malah saking beratnya penulis kitab ini
(mungkin Yehezkiel sendiri atau mazhabnya) memberikan gambaran yang sangat mengerikan. Gambaran itu
adalah Sebuah Lembah dengan berserakannya tulang-tulang kering. Kalau dilihat
dari gaya bahasnya, kemungkinan maksut penulis dengan perumpamaan itu adalah:
1.
Supaya pembaca/pendengar bisa
merenungkan maksut yang terkandung dari surat itu, kemudian meresap
(dalambahasa teman saya adalah proses pembatinan).
2.
Kemungkina Raja penjajah yang sedang
berkuasa dan paham bahasa Ibrani, sehingga penulis perlu menggunakan
kiasan-kiasan untuk penyampaian berita. Jika tidak menggunakan kiasan, bisa
jadi surat itu tidak sampai karena disensor oleh penguasa. Ingat jaman orde
baru???
3.
Memang mungkin si penulis adalah
seorang sastrawan sehingga menggunakan model kiasan untuk menyampaikan
pesannya. Dari ketiganya,saya akan mengabmbil pendekatan nomor dua, bahwa
penguasa galak dan oleh karenanya perlu menggunakan bahasa kiasan.
Kiasan
itu,hendak menyadarkan sekaligus memberikan sebuah harapan baik untuk kaum yang
dibuang agar tetap bersemangat. Memang mungkin mereka sedang dalam keadaan maha
sulit sehingga digambarkan tulang yang berserakan, namun dengan keadaan speerti
itu tidak harus menjadikan umat bersedih. Umat bisa sadar dan berharap bahwa
tulang itu akan hidup jika ada ruh yang menghidupinya. Pengharapan menjadi tema
pokok teks ini, dengan pengharapan maka hidup akan bergairah.
Harapan
dan kehidupan itu bisa terwujud bila ada ruh yang menghidupi.
Mazmur
104:24-34,35b
Madah
indah dalam Mazmur 104 ini adalah sebuah kesaksian akan pengalaman yang
mengkristal menjadi sebuah iman yang kuat. Mazmur ini berisikan pengalaman
hidup penulis bahwa semua yang ada itu tercipta oleh Tuhan dan dengannya
kehidupan berjalan dengan harmonis. Pokok utamanya adalah Roh Tuhan adalah
sumber keidupan. Dengan jelas dan tegas pemazmur mengungkapkan bahwa saat Ruh
Tuhan dikirimkan maka semua akan hidup dan diperbaharui.
Ruh
itulah yang mmeperbaharui,betapa luar biasanya kesadaran pemazmur.
Roma
8:22-27
Hidup
ini adalah perjuangan. Demikian slogan yang pernah muncul dari pergumulan
beberapa komunitas kehidupan. Dan memang benar, hidup ini adalah perjuangan,
perjuangan untuk bertahan hidup dari berbagai macam persoalan yang terkadang
terasa teramat berat.
Menghadapi
keadaan yang demikian, Paulus bersurat kepada jemaat Roma bahwa semua
mpersoalan itu pernah dialami oleh semua orang,yang penting adalah bagaiama
umat Tuhan menyelesaikannya dengan pertolongan Ruh Tuhan.
Yohanes
15;26-27,16:4b-15
Tema
Pentakosta kuat dalam bacaan ini. Dari janji Tuhan Yesus bahwa sesudah Ia naik
ke sorga, maka Yesus akan “Mengada” dengan cara berbeda dengan istilah Roh
Penghibur (yun Parakletos). Dengan janji ini maka umat( para murid tidak usah
kuatir karena tetap akan ditemanI Tuhan Yesus meski dengan cara yang berbeda.
Catatan
penting yang terkait erat dengan tema dan perayaan iman adalah bahwa Ruh itu
yang akan menuntun kita kepada kebenaran dan memimpin kita semua (kamu dalam
bahasa Alkitab)kepada seluruh kebenaran .
Point-point
untuk bahan kotbah
1.
Masalah adalah bumbu kehidupan
manusia, entah besar ataupun kecil. Namun Tuhan selalu berjanji untuk
memulihkan (menghembusi tulang-tulang dengan Ruh) ke keadaan yang lebih baik
2.
Kekuatan Ruh itu sangat dasyat,
sehingga ia bisa mencipta sega yang ada (mazmur)
3.
Iman bukan sekedar dimengerti namun
mesti dijalani. Orang yang beriman pasti
berbeda memandang penderitaan, karena baginya penderitaan adalah kelengkapan
hidup,jadi tidak usah ditangisi dan disesali. Jika bisa tersenyum saat masalah
menerjang, maka iman dia sungguh sangat kuat.
4.
Yesus berjanji bahwa diriNya akan
kembali dalam rupa berbeda, Ruh Kudus Sang Penghibur (parakletos). Ruh itu yang
akan memimpin ke dalam semua kebenaran.
Usulan
Ilustrasi
1.
Kisah seorang pemuda yang enggan
mengantarkan ibunya belanja karena alasan capek namun kemudian malah mengantarkan
cewek taksirannya nyumbang sejauh 31 km padahal ke pasar hanya 2 km. Betapa “Ruh
Cinta dan Harapan” mengalahkan keletihan
2.
Kisah pohon mangga yang sulit berbuah
namun setelah diberi nutrisi perangsang buah menjadi lebat berbuah, butuh ruh
yang menggerakkan untuk berbuah
Penutup
Yang
tertulis itu hanya sebuah sketsa, namanya sketsa pasti tidak akan sempurna,
maka silakan menyempurnakannya dengan kuas-kuas dan cat kemampuan para pembaca
semua.
Minggu
31 Mei
Tema
“Alah Yang Memberdayakan”
Pengantar
Kebanyakan
orang akan berdalih untuk melakukan apa-apa selain dari kehendak dan kemauannya
sendiri. Selalu ada 1001 macam alasan, bahkan saat apa yang hendak
diperintahkan itu adalah kehendak Allah, msih banyak orang yang mencoba
menghindar (dalam bahasa jawa endo)
Ini
menjadi fenomena yang menarik,jika memang manusia yakin bahwa melalui
gerejanya, Tuhan berkenan hadir dan berkehendak, mengapa masih saja banyak yang
menolak?
Bacaan
I
Yesaya 6:-1-8
Narasi
tentang dinamika sebuah panggilan. Yesaya menarasikan tentang posisi Yang
Illahi,atau Tuhan yang di tempat Maha Tinggi dengan segala kemegahan dan
penjaga serta hamba. Dengan narasi ini, sejatinya penulis kitab ini hendak
mengajak pembaca melihat dua sisi indah ziarah iman yang bertemakan PANGGILAN.
Meski
Allah adalah maha segala-galanya, namun ketika mencoba mengutus manusia
(Yesaya) maka manusia itu masih saja mencari berbagai alasan untuk menghindari
panggilan perutusan itu. Dinarasikan denga eksplisit bagaiman terjadi negosiasi
(dalam bahasa jawa nyang-nyangan) sebelum saling sepakat. Perlu dimengerti
bahwa dalam tradisi Yudaisme, Tuhan bisa dinego. Masalah benar atau salah bukan
urusan kita, karena budaya Yudaisme mengajari demikian. Beberapa tokoh
pernah mengakan negosiasi dengan Yang
Illahi. Abraham, Hizkia dan juga Musa (lihat Alkitab)
Menarik
sekali untuk diteliti lebih detai bahwa narasi penggilan Yesaya ini ber-ending
menyenangkan karena Yesaya akhirnya berjanji atau mengungkapkan janji imannya
dengan baik, bahkan formulasi janji iman Yesaya ini di kemudian hari, di sebuah
negeri yang jauh dari Timur Tengah dijadikan sebuah lagu populer, “Ini Aku
Utuslah Tuhan”
Perutusan
manusia oleh Tuhan untuk tugas penggilan melanjutkan karya Illahi tidak serta
merta dijawab iya, namun butuh proses panjang. Maka, menjadi penting bagi kita
semua, apakah saat ini telah,sedang atau akan dipanggilNya dan kemudian berani
bernegosiasi dengan Sang Illahi untuk kemudian melakukannya dengan baik dan
benar semua perintah dan kehendakNya?
Mazmur 29
Puisi
atau madah Indah karya Daud (atau mazhabnya). Dan di pasal 29 ini, kita diajak
oleh pemazmur untuk bertamasya ke ranah hidup yang –mungkin- tidak disukai oleh
kebanyakan manusia. Pemazmur mengajak kita semua menikmati penegalaman
penyertaan Tuhan dalam sulitnya kehidupan yang digambarkan dengan air bah,
suara menggelegar,nyala api dan yang lainnya. Maksut pemazmur mungkin hendak
memberikan alternatif kepada pembaca bahwa Tuhan tidak hanya ada dalam
kelembutan dan ketenangan, numun dalam keadaan yang menakutkanpun Dia ada dan
selalu menyertai. Besar kemungkinan mazmur ini ditulis sewaktu Daud sudah Adi
Yuswa, sehingga semua tulisannya berangkat dari pengalama dan bukan dari
perencanaan.
Dari
narasi puisi ini, kita bisa melihat betapa sejatinya dalam segala keadaan dan
kondisi, Tuhan ada dan bersedia untuk menolong dan menuntun meski manusia
menyoraki dan bahkan mempersalahkannya.
Bacaan II
Paulus
menggunakan metafora relasi antara manusia dengan manusia dalam dunia
perdagangan,yaitu hutang-piutang untuk
menggambarkan relasi umat dengan Tuhan. Namun perspektifnya berbeda,
Paulus mengimani bahwa Kasih Tuhan itu tulus, untuk menyelamatkan manusiadengan
menyerahkan hidupNYa, namun seringkali manusia mau menang sendiri. Yang enak-enak
membuat ingat akan Tuhan, namun kalau ada yang berat-berat kemudian lari
tunggang langgang meninggalkannya.
Situasi
sulit dalam kehidupan ini adalah sebuah kepastian namun bagaimana mengatasinya
adalah sebuah pilihan. Paulus kemudian menjelaskan bahwa kondisi “Keberhutangan”
itu bukan dalam posisi negatif, namun justru positif. Hutang karena telah
ditebus (Teologi GKJ bahwa manusia tidak bisa menebusnya sendiri/menyelamatkan
diri sendiri) dari semua tanggungan dosa. Dengan konsep hutang maka Paulus
ingin memberi penjelasan sedekat mungkin dengan dunia budaya umat pada waktu
itu bahwa memang hutang harus di bayar. Pembayarannya adalah dengan membaktikan
hidup pada kebaikan, karena menurut Paulus, ruh yang diterima setelah
dilepaskan dari dosa adalah ruh yang menjadikan umat menjadi anak Allah dan
dengan posisi sebagai anak inilah maka umat bisa memanggilNya Abba Bappa.
Bacaan
Injil dari Yohanes 3:1-17
Narasi
dialog antara Yesus dan Nicodemus. Isi dari percakapan itu adalah di sekitar
Kemampuan Melihat Kerajaan Allah dan Kelahiran Kembali. Yesus menggunakan metafora lahir kembali atau lahir
baru yang di kemudian istilah ini populer (bahkan sangat) di kalangan kristen. Sedikit-sedikit
selalu istilah kelahiran baru dimunculkan. Sejatinya ini sama dengan pencerahan
yang dalam bahasa Jerman aufklarung. Dalam bahasa yang lebih sederhana namun
mendalam Antony De Mello dalam salah satu tulisannya mengungkapkan perspektif
lkelahiran baru dengan memberikan perumpamaan seorang guru mengajak muridnya ke
tepian sebuah sungai. Murid itu ingin diajari apa itu pencerahan,dan sewaktu
diajak sang guru ke tepian sungai dia
bingung. Kemudian ditanya,apa yang kau dengar?Dijawan bahwa hanya mendengar
gemericik air. Kemudian guru itu mengajanya pulang,esoknya kembali diajak ke
tempat yang sama dengan tindakan dan pertanyaan yang sama. Semakin bingung si
murid karena dia ingin tahu tentang pencerahan, kemudian sang guru memberikan
pengajarannya, bahwa sewaktu melihat dan mendengar gemericik air dan kemudian
bisa merasakan kedamaian dan keteduhan,maka disitulah Tuhan ditemukan.
Demikian
juga dengan Yesus terhadap Nicodemus, sepanjang masih berkutat dalam “Tempurung
Agama”nya, mustahil bisa melihat Tuhan. Sepanjang masih berkutat denganpaham
kesekengan dan ketidak mampuan,mustahil akan berguna baik untuk dunia, justru
yang ada adalah spiritualitas pelit dan menghiba di mana-mana.
Kelahiran
baru,bukan secara dunia atau biologis namun perubahan total sikap dan tindakan
hidup. Dari yang selalu meminta dimengerti menjadi yang selalu mengerti dan
memahami yang lain, dari yang sukanya ngritik dan maido karena tidak puas
menjdi terbuka untuk dikritik dan tidak nesu. Itulah kelahiran baru,dan jika
gereja masih “Konsisten” dengan langgam hidupnya, maka narasi percakapan Yesus
dan nikodemus ini tidak akan berarti sampai kapanpun.
Sugesti
penyusunan kotbah
1.
Panggilan perubahan itu akan selalu
menggaung hebat dalam hidup dan kehidupan manusia. Seperti Yesaya,sering
manusia menolak dengan berbagai alasan,namun pada akhirnya menerima. Perlu sadar
akan “Teologi Negosiasi” gaya Yuadisme untuk mengerti proses ini. Maka ajaklah
jemaat untuk menyadari bahwa panggilan itu akan tertuju kepada semua umat.
2.
Bawalah jemaat menyadari kehadiran
Tuhan seperti pengalaman Daud bahwa dalam badai dan air bahpun Tuhan akan
selalu hadir dan menolong.
3.
Ingatkan umat bahwa kita sejatinya
berhutang dan oleh karenanya harus membayar. Hutang keselamatan itu harus
dibayar denganketaatan dan kesediaan melanjutkan karya Yesus yang telah
mengaruiniakan Ruh untuk membuat kita menjadi anakNya.
4.
Kelahiran baru memang istilah paling
laku dalam konteks kekristenan di Indonesia, meski sulit dipahami. Maka, saya
mengusulkan istilah Kelahiran Baru/lahir baru itu dengan perubahan paradigma
kehidupan.
Usulan Ilustrasi
1.
Berhubung Akik menjadi primadona dalam
beberapa waktu terakhir, boleh jadi ini dipakai sebagai pembuka/ilustrasi/gerbang
masuk. Sebelum laku dengan mahal,jarang orang yang tidak hobby banget mau
berurusan dengan akik,namun sekarang karena paradigmanya berubah, akik bukan
sebagai lambang keanggunan melainkan sebagai tambang cari uang, maka semua
berburu akik.
2.
Kisah seorang pemimpin PA yang enggan
diganti meski ada pendeta kondang datang. Bagi pemuda sang pemimpin PA itu
memimpin ibadah adalah Berkat dan Karunia, kesempatan untuk NYAUR UTANG, lha
kalau diganti kan utangnya masih?Beda dengan kita, kalau ada yang mengganti,wawww...asyoikkk..
Sekian
dan Salam
Doni
Setyawan
http://sederhanadansehat.blogspot.com/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar