Seorang Saudagar kaya, pada suatu senja
berjalan-jalan ke sebuah pantai. Keindahan alam dan keluasan pandang menjadi
alasan Saudagar kaya itu selalu ingin ke pantai untuk memperbaharui
ispirasinya. Deburan ombak selalu menjadi kerinduan saudagar kaya itu. Kekayaan
telah menemani hidupnya sehingga dia seolah bebas mencari suka dalam
kehidupannya.
Dalam perjalanannya di pantai itu, saudagar kaya
itu melihat seorang yang nampaknya nelayan, tertidur di dekat kapal kecilnya,
di bawah pohon nyiur. Saudagar itu kaget bukan kepalang.mengapa hari siang dan
cerah seperti ini,nelayan itu malah tertidur?Kemudian dia mendekati nelayan
itu,sadar ada yang mendekati,nelayan itu bangun.
“Pak, mengapa bapak tertidur?”, Tanya Saudagar
kaya itu. “Lha memang salah saya apa tidak boleh tidur?”, Jawab si nelayan
dengan santainya.
“Seharusnya bapak bekerja keras,mencari
ikan,menambah kapal dan kemudian baru menikmati hidup”, Begitu penjelasan
saudagar kaya itu. Sambil agak beranjak, seolah hendak bangkit meski hanya
duduk, bapak nelayan itu menjawab dengan sangat santai. “Lha, bapak pikir saya
ini sedang apa?”, Saya sekarang ini sedang menikmati hidup pak...”, Lanjut
nelayan tua itu. Saudagar kaya itu kemudian berlalu dengan heran.
Kebebasan selalu menjadi dambaan setiap manusia.
Bebas dari segalanya.bebas dari himpitan beban,himpitan persoalan,himpitan
ekonomi,himpitan konsep hidup dan masih banyak lagi. Banyak manusia yang
terpenjara oleh konsep hidupnya, selalu mengejar apa yang diimpikan dan melupakan
dirinya. Seolah mengejar bahagia, namun
sejatinya malah sedang meninggalkan bahagia.
Yesus datang untuk memberikan kebebasan. Bukan sekedar
kebebasan dari keterjajahan,seperti pada jaman Yesus, saat orang Yahudi
terjajah orang Romawi. Kebebasan yang Yesus tawarkan adalah kebebasan
utuh,bebas berpikir,bebar memilih, bebas berbuat baik,bebas menentukan hidup
dalam pilihan-pilihan yang mungkin berbeda dari pilihan-pilihan kebanyakan
orang. Nelayan yang sedang bersantai,tertidur di siang indah, dalam buaian
angin pantai,dalam keteduhan rindang nyiur, sejatinya sedang menikmati hidup
dalam kebebasannya. Saudagar kaya memiliki sudut pandang berbeda. Bagi saudagar,waktu
adalah uang,sementara bagi si nelayan, waktu adalah hidup itu sendiri. Nelayan tua
itu sejatinya lebih kaya dari saudagar itu,karena dia mampu menikmati hidup. Sementara
saudagar itu, meski berlimpah harta, namun tidak mampu menikmati hidup.
Nelayan sederhana itu sejatinya sudah mampu
menyatu dengan kehidupan yang bebas. Bebas memilih yang menjadi jalan hidupnya.
Ia tidak terbelenggu dengan ukuran-ukuran duniawi,seperti kekayaan, harta benda
yang sering menjerat manusia sangat kuat. Ini beda dengan saudagar kaya, yang
selalu berpikir harta..harta dan harta. Tuhan Yesus, berkehendak agar manusia
bebas dari segala macam belenggu kehidupan. Bebas dari hidup yang sekedar
mentaati aturan-aturan agama, bebas dari belenggu kewajiban-kewajiban beragama,
bebas dari konsep-konsep yang sering menjerat.
Bacaan Alkitab minggu ini, Yohanes 10:22-30,
sangat sulit dimengerti oleh banyak pembaca pada jaman sekarang. Namun satu hal
yang sederhana perlu dipahami bahwa Yesus Sebagai Gembala Agung yang Baik itu,
memberikan kebebasan kepada siapa saja untuk dikenal. Pengenalan itu bukan saja
melalui tradisi keyakinan leluhur, namun juga melalui tindakan-tindakanNya.
Sudahkah kita
mengenalNya dari apa yang dikerjakanNya untuk kita, ataukah kita hanya
mengenalNya dari cerita-cerita leluhur saja?Hanya diri kita sendiri yang mengerti...
Salam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar