JADILAH NOMOR SATU

Kamis, 14 April 2016

KISAH NELAYAN DAN ORANG KAYA


Seorang Saudagar kaya, pada suatu senja berjalan-jalan ke sebuah pantai. Keindahan alam dan keluasan pandang menjadi alasan Saudagar kaya itu selalu ingin ke pantai untuk memperbaharui ispirasinya. Deburan ombak selalu menjadi kerinduan saudagar kaya itu. Kekayaan telah menemani hidupnya sehingga dia seolah bebas mencari suka dalam kehidupannya.

Dalam perjalanannya di pantai itu, saudagar kaya itu melihat seorang yang nampaknya nelayan, tertidur di dekat kapal kecilnya, di bawah pohon nyiur. Saudagar itu kaget bukan kepalang.mengapa hari siang dan cerah seperti ini,nelayan itu malah tertidur?Kemudian dia mendekati nelayan itu,sadar ada yang mendekati,nelayan itu bangun.
“Pak, mengapa bapak tertidur?”, Tanya Saudagar kaya itu. “Lha memang salah saya apa tidak boleh tidur?”, Jawab si nelayan dengan santainya.
“Seharusnya bapak bekerja keras,mencari ikan,menambah kapal dan kemudian baru menikmati hidup”, Begitu penjelasan saudagar kaya itu. Sambil agak beranjak, seolah hendak bangkit meski hanya duduk, bapak nelayan itu menjawab dengan sangat santai. “Lha, bapak pikir saya ini sedang apa?”, Saya sekarang ini sedang menikmati hidup pak...”, Lanjut nelayan tua itu. Saudagar kaya itu kemudian berlalu dengan heran.
  
Kebebasan selalu menjadi dambaan setiap manusia. Bebas dari segalanya.bebas dari himpitan beban,himpitan persoalan,himpitan ekonomi,himpitan konsep hidup dan masih banyak lagi. Banyak manusia yang terpenjara oleh konsep hidupnya, selalu mengejar apa yang diimpikan dan melupakan dirinya. Seolah  mengejar bahagia, namun sejatinya malah sedang meninggalkan bahagia.
Yesus datang untuk memberikan kebebasan. Bukan sekedar kebebasan dari keterjajahan,seperti pada jaman Yesus, saat orang Yahudi terjajah orang Romawi. Kebebasan yang Yesus tawarkan adalah kebebasan utuh,bebas berpikir,bebar memilih, bebas berbuat baik,bebas menentukan hidup dalam pilihan-pilihan yang mungkin berbeda dari pilihan-pilihan kebanyakan orang. Nelayan yang sedang bersantai,tertidur di siang indah, dalam buaian angin pantai,dalam keteduhan rindang nyiur, sejatinya sedang menikmati hidup dalam kebebasannya. Saudagar kaya memiliki sudut pandang berbeda. Bagi saudagar,waktu adalah uang,sementara bagi si nelayan, waktu adalah hidup itu sendiri. Nelayan tua itu sejatinya lebih kaya dari saudagar itu,karena dia mampu menikmati hidup. Sementara saudagar itu, meski berlimpah harta, namun tidak mampu menikmati hidup.
Nelayan sederhana itu sejatinya sudah mampu menyatu dengan kehidupan yang bebas. Bebas memilih yang menjadi jalan hidupnya. Ia tidak terbelenggu dengan ukuran-ukuran duniawi,seperti kekayaan, harta benda yang sering menjerat manusia sangat kuat. Ini beda dengan saudagar kaya, yang selalu berpikir harta..harta dan harta. Tuhan Yesus, berkehendak agar manusia bebas dari segala macam belenggu kehidupan. Bebas dari hidup yang sekedar mentaati aturan-aturan agama, bebas dari belenggu kewajiban-kewajiban beragama, bebas dari konsep-konsep yang sering menjerat.

Bacaan Alkitab minggu ini, Yohanes 10:22-30, sangat sulit dimengerti oleh banyak pembaca pada jaman sekarang. Namun satu hal yang sederhana perlu dipahami bahwa Yesus Sebagai Gembala Agung yang Baik itu, memberikan kebebasan kepada siapa saja untuk dikenal. Pengenalan itu bukan saja melalui tradisi keyakinan leluhur, namun juga melalui tindakan-tindakanNya.
Sudahkah kita  mengenalNya dari apa yang dikerjakanNya untuk kita, ataukah kita hanya mengenalNya dari cerita-cerita leluhur saja?Hanya diri kita sendiri yang mengerti...
Salam


Tidak ada komentar:

Posting Komentar