Bisa dibayangkan betapa perih
dan pilunya hati seorang Janda yang di tinggal mati anak lelaki satu-satunya. Dua
beban hidup maha berat itu yang mesti dipanggul Janda dari Nain. Itupun masih
ditambahai dengan “suplemen “ beban hidup yang lain, yaitu sebagai perempuan
dalam konteks budaya yahudi dan sebagai janda. Maka,lengkaplah derita Janda
dari Nain ini. Derita yang mau tidak mau menguras air mata ibu Janda. Dan kesempurnaan
derita itu hendak ditutup saat penguburan jenasah anak lelaki satu-satunya. Bersama
dengan kerabat dan handai taulan, si janda mengantarkan jenasah anak lelaki
satu-satunya menuju tempat persemayaman terakhir.
Jalan yang dilalui adalah
jalan kedukaan,jalan air mata. Mungkin kesedihan menjadikan si janda lupa akan
alam sekitar yang sejatinya tidak berubah, sejatinya selalu indah. Hanya mata
batin yang gundah senantiasa membatasi pandangan keindahan itu. Bahkan saat
rombongan pengantar jenasah itu, pada sebuah tikungan di gerbang kota hendak
berpapasan dengan rombongan lain, janda itu takjua menyadariya. Justru
rombongan yang hendak berpapasan itu yang menyapa mereka,menanya ada apa dengan
kesedihan mereka.
Rombongan yang berpapasan itu
adalah rombongan Yesus, orang Nasaret dengan banyak orang berbondng mengikuti,
entah apa tujuan mereka. Yesus selalu hadir dengan empati yang tulus dan
tindakan nyata dari empati itu. Melihat derita takterhingga janda itu, maka
dihampirinya peti jenasah yang masih dipanggul empat orang itu. Keajaiban alam,empat
orang yang memikul peti jenasah itupun berhenti, meski mereka punya banyak
kesibukan yang harus ditinggalkan, namun mereka tidak tergesa, mereka setia
menunjukan empatinya.
“Anak Muda, bangunlah. Aku
Yesus dari Nasaret memanggilmu, memerintahkan engkau bangun.”, Demikian Yesus
dari Nasaret itu berkata dengan penuh kuasa. Dan bangkitlah pemuda, anak Janda
itu. Kebangkitan yang menghadirkan suka cita dan memang kebangkitan itu selalu
menghadirkan sukacita. Kehadiran atau perjumpaan dengan Yesus selalu mengubah
kehidupan. Dan untuk janda Nain, perjumpaannya dengan Yesus telah mengeringkan
air matanya. Air mata dukanya berubah menjadi senyum bahagia.
Kehadiran Yesus selalu
mengubah kehidupan,selalu menghadirkan senyum sukacita, selalu memberi
kehidupan dan memberi pemulihan. Maka, untuk siapa saja yang mengimani dan
mengikutNya, belajarlah untuk selalu memberi kehidupan bukan malah menggilas
dan menghilangkan kehidupan.
Salam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar