JADILAH NOMOR SATU

Kamis, 02 Juni 2016

KERINGNYA AIR MATA JANDA DARI NAIN

Bisa dibayangkan betapa perih dan pilunya hati seorang Janda yang di tinggal mati anak lelaki satu-satunya. Dua beban hidup maha berat itu yang mesti dipanggul Janda dari Nain. Itupun masih ditambahai dengan “suplemen “ beban hidup yang lain, yaitu sebagai perempuan dalam konteks budaya yahudi dan sebagai janda. Maka,lengkaplah derita Janda dari Nain ini. Derita yang mau tidak mau menguras air mata ibu Janda. Dan kesempurnaan derita itu hendak ditutup saat penguburan jenasah anak lelaki satu-satunya. Bersama dengan kerabat dan handai taulan, si janda mengantarkan jenasah anak lelaki satu-satunya menuju tempat persemayaman terakhir.
Jalan yang dilalui adalah jalan kedukaan,jalan air mata. Mungkin kesedihan menjadikan si janda lupa akan alam sekitar yang sejatinya tidak berubah, sejatinya selalu indah. Hanya mata batin yang gundah senantiasa membatasi pandangan keindahan itu. Bahkan saat rombongan pengantar jenasah itu, pada sebuah tikungan di gerbang kota hendak berpapasan dengan rombongan lain, janda itu takjua menyadariya. Justru rombongan yang hendak berpapasan itu yang menyapa mereka,menanya ada apa dengan kesedihan mereka.
Rombongan yang berpapasan itu adalah rombongan Yesus, orang Nasaret dengan banyak orang berbondng mengikuti, entah apa tujuan mereka. Yesus selalu hadir dengan empati yang tulus dan tindakan nyata dari empati itu. Melihat derita takterhingga janda itu, maka dihampirinya peti jenasah yang masih dipanggul empat orang itu. Keajaiban alam,empat orang yang memikul peti jenasah itupun berhenti, meski mereka punya banyak kesibukan yang harus ditinggalkan, namun mereka tidak tergesa, mereka setia menunjukan empatinya.
“Anak Muda, bangunlah. Aku Yesus dari Nasaret memanggilmu, memerintahkan engkau bangun.”, Demikian Yesus dari Nasaret itu berkata dengan penuh kuasa. Dan bangkitlah pemuda, anak Janda itu. Kebangkitan yang menghadirkan suka cita dan memang kebangkitan itu selalu menghadirkan sukacita. Kehadiran atau perjumpaan dengan Yesus selalu mengubah kehidupan. Dan untuk janda Nain, perjumpaannya dengan Yesus telah mengeringkan air matanya. Air mata dukanya berubah menjadi senyum bahagia.
Kehadiran Yesus selalu mengubah kehidupan,selalu menghadirkan senyum sukacita, selalu memberi kehidupan dan memberi pemulihan. Maka, untuk siapa saja yang mengimani dan mengikutNya, belajarlah untuk selalu memberi kehidupan bukan malah menggilas dan menghilangkan kehidupan.

Salam  


Tidak ada komentar:

Posting Komentar