Perumpamaan tentang Hakim Yang Tidak benar di Lukas 18 ayat 1-8 ini sungguh sangat
menarik untuk dicermati. Lukas dengan cerdas menempatkan keberadaan si Janda ,
yang dalam konstelasi social Yahudi jaman Yesus hampir pasti miskin, dengan
kekayaan dan keagungan sang hakim.
Dua sisi yang sangat kontradiktif. Dan
Narasi semakin menarik terkait tokoh perempuan,sudah janda,bermasalah lagi. Sungguh sebuah kondisi dan situasi sosial
yang sangat memprihatinkan. Semakin memprihatinkan saat ia punya masalah dan harus
berhadapan dengan hakim,yang secara kondisi social ekonomi bak bumi dan langit dengan
dirinya. Sudah berulang kali janda itu
mendatangi hakim namun tidak diperhatikan, mungkin janda itu tidak cantik,
sudah tua dan yang pasti miskin, sehingga si Hakim enggan memberi perhatian.
Namun karena ke-ngeyel-an si Janda itu,meski berat dan menyebalkan, hakim itu
akhirnya mengabulkan permohonan si Janda. Ini yang menjadi pusat perhatian
Yesus. Yesus hendak membuat komparasi kontradiktif (Perbandingan yang sangat
berseberangan), perbandingan yang sungguh sangat njomplang. Antara Hakim yang tidak baik dengan Allah Bapa. Jika Hakim
yang tidak baik saja mau memberi apa yang dibutuhkan janda itu,karena memang
dia ada serta bisa, apalagi Bapa yang di Surga yang pasti sangat ada dan bisa. Ini
inti dari pesan Yesus. Lalu apakah ada pesan lain?Ada.! Dan ini berkenaan dengan tema bulan keluarga
kita saat ini. Apa itu?KETEKUNAN.
Perhatikan ketekunan si Janda itu,meski ditolak
dan mungkin dimaki-maki serta direndahkan, ia tetap meminta. Ketekunan inilah
yang diapresiasi Yesus. Ketekuna itu pulalah yang membuat Janda itu akhirnya
bisa mendapatkan apa yang ia inginkan atau sedang ia butuhkan.
Kita di jaman yang serba digital ini sudah sulit
menemukan ketekunan,semua ingin instan dan serba cepat. Karenanya banyak
terjadi korupsi demi cepat kaya. Oleh karena itu,perlulah kita sedikit
bercermin dari semangat ngeyel dan
tekunnya Janda dalam narasi di Lukas 18 ini. Kalau kita mau jujur, ketekunan
juga mulai menghilang dari kehidupan kita. Kita sudah tidak tekun
berdoa,membaca dan belajar Alkitab,tekun rapat untuk para anggota
majelis,karena berbagai macam alasan. Lha, kalau kita tidak tekun,apa yang
hendak kita tularkan dan contohkan untuk anak-anak kita?
Mari kita hidup tekun dan menularkan “VIRUS”
ketekunan ini kepada keluarga kita,sekitar kita dan semua saja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar