JADILAH NOMOR SATU

Jumat, 14 Oktober 2016

VIRUS KETEKUNAN



Perumpamaan tentang Hakim Yang Tidak benar  di Lukas 18 ayat 1-8 ini sungguh sangat menarik untuk dicermati. Lukas dengan cerdas menempatkan keberadaan si Janda , yang dalam konstelasi social Yahudi jaman Yesus hampir pasti miskin, dengan kekayaan dan keagungan sang hakim. 
Dua sisi yang sangat kontradiktif. Dan Narasi semakin menarik terkait tokoh perempuan,sudah janda,bermasalah  lagi. Sungguh sebuah kondisi dan situasi sosial yang sangat memprihatinkan. Semakin memprihatinkan saat ia punya masalah dan harus berhadapan dengan hakim,yang secara kondisi social ekonomi bak bumi dan langit dengan  dirinya. Sudah berulang kali janda itu mendatangi hakim namun tidak diperhatikan, mungkin janda itu tidak cantik, sudah tua dan yang pasti miskin, sehingga si Hakim enggan memberi perhatian.

Namun karena ke-ngeyel-an si Janda itu,meski berat dan menyebalkan, hakim itu akhirnya mengabulkan permohonan si Janda. Ini yang menjadi pusat perhatian Yesus. Yesus hendak membuat komparasi kontradiktif (Perbandingan yang sangat berseberangan), perbandingan yang sungguh sangat njomplang. Antara Hakim yang tidak baik dengan Allah Bapa. Jika Hakim yang tidak baik saja mau memberi apa yang dibutuhkan janda itu,karena memang dia ada serta bisa, apalagi Bapa yang di Surga yang pasti sangat ada dan bisa. Ini inti dari pesan Yesus. Lalu apakah ada pesan lain?Ada.!  Dan ini berkenaan dengan tema bulan keluarga kita saat ini. Apa itu?KETEKUNAN.

Perhatikan ketekunan si Janda itu,meski ditolak dan mungkin dimaki-maki serta direndahkan, ia tetap meminta. Ketekunan inilah yang diapresiasi Yesus. Ketekuna itu pulalah yang membuat Janda itu akhirnya bisa mendapatkan apa yang ia inginkan atau sedang ia butuhkan.

Kita di jaman yang serba digital ini sudah sulit menemukan ketekunan,semua ingin instan dan serba cepat. Karenanya banyak terjadi korupsi demi cepat kaya. Oleh karena itu,perlulah kita sedikit bercermin dari semangat ngeyel dan tekunnya Janda dalam narasi di Lukas 18 ini. Kalau kita mau jujur, ketekunan juga mulai menghilang dari kehidupan kita. Kita sudah tidak tekun berdoa,membaca dan belajar Alkitab,tekun rapat untuk para anggota majelis,karena berbagai macam alasan. Lha, kalau kita tidak tekun,apa yang hendak kita tularkan dan contohkan untuk anak-anak kita?
Mari kita hidup tekun dan menularkan “VIRUS” ketekunan ini kepada keluarga kita,sekitar kita dan semua saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar