Paham salah dan Salah Paham soal konsep dan praktik Lemah Lembut masih langgeng dan subur sampai sekarang. Bahasa itu, Lemah Lembut, meskipun bahasa universal, namun sepertinya sudah dikapling oleh gereja, sebagai bahasanya, dalam istilah keren bisa dinamakan “The Language of Belonging”. Sangat menari merefleksikan pemaparan kotbah Pdt. Slamet Waluya (GKJ Bringin), yang dengan jelas dan tegas memilah atau membedakan pengertian soal Lemah Lembut sebagai “Sparepart” kehidupan dengan Lemah Lembut ssebagai “aksesoris” kehidupan. Soal saudara (setelah membaca tulisan ini mau memilih yang mana atau mengindentifikasi diri di posisi mana, silakan, itu bukan urusan saya..
Tulisan
refleksi hari ini (minggu 28 Juni 2020) akan mencoba membandingkan konsep Lemah Lembut –seperti yang saya paparkan di atas- dengan narasi Alkitab. Karena
salah satu bacaan leksionari hari ini adalah Yeremia pasal 28 ayat 5-9, maka
saya akan menggunakan narasi itu untuk dipakai sebagai “kacamata” yang semoga
bisa menolong siapa saja yang membaca tulisan ini memahai lebih jernih. Ingat lho
ya, memahami! Soal mempraktikan, ya sekali lagi, itu bukan urusan saya. Mari kita
berselancar, masuk ke “ruang duel” antara Hananya dengan Yeremia. Sebelumnya,
baik kalau saya secara singkat menarasikan “Curricullum Vitae” keduanya,
sebagai nabi. Yeremia adalah nabi independent, istilah Pak Romi adalah nabi
Partikelir. Oleh karenanya, Yeremia mencari nafkah sendiri, tidak terafiliasi dengan
lembaga apapun, hanya terafiliasi dengan kebenaran Illahi. Karena Partikelir
tadi, maka Yeremia berani, bahkan sangat berani mengatakan kebenaran sebagai
kebenaran. Dia tidak takut dengan apapun, hanya takut terlindas kebenaran dan
kebenaran itu adalah Sang Illahi sendiri.
Kalau
Yeremia Parikelir, maka beda dengan Hananya, dia adalah nabi “plat merah”. Dia,
Hananya, diangkat oleh raja,minimal pemerintah. Karena diangkat pemerintah
(raja) maka aspek kemandirian Hananya bermasalah. Kebenaran hanya akan menjadi
aksesoris, hanya akan muncul dalam perkataan dan sulit dalam tindakan. Ndilalau
raja saat itu, tidak berperilaku seperti kehendak Allah, maka Hananya
terpenjara pada “penjara structural. Karena dibayar oleh raja, maka tugas Hananya
adalah menyenangkan Raja, entah itu sesuai dengan kehendak Allah atau tidak.
Dalam
landscape “duel” mereka, Hananya menubuatkan sesuatu yang baik, yang elok, yang
indah dan yang menyenangkan raja, meskipun kondisi factual tidak demikian. Hananya
tidak ingin mengabdi ada kebenaran, ia ingin berbakati pada yang membayarnya.Hananya
pasti takut mengatakan kebenaran yang itu tidak sesuai dengan keinginan raja. Ini
beda dengan Yeremia, karena dia mandiri
atau Partikelir tadi, Yeremia punya kebebasan yang luarbiasa. Karena ketidaktergantungannya
dengan siapapun (hanya pada kebenaran), maka Yeremia berani mengatakan yang
sebenarnya. Yeremia paham akan resiko yang menantinya di waktu yang hendak
terjelang.
Lalu
apa salah seperti Hananya menubuatkan sesuatu yang baik? Jawabnya TIDAK! Tidak
ada yang salah, namun mengatakan kebaikan di tengah kesalahan adalah
kebohongan. Ini sama seperti memberikan harapan petani akan panen satu ton
Porang, meski hanya menanam satu kg bibit. Salah besar!
Yeremia
berani mengatakn tidak, untuk sesuatu yang memang tidak. Yeremia mengatakan
salah untuk sesuatu yang salah, meski akibatnya dia dimusuhi,dibenci dan
(mungkin) ditinggalkan.
Refleksi
Spirit
“Duel Yeremia vs Hananya”, masih langgeng hingga saat ini, bahkan juga di dalam
gereja. Dengan sangat jelas, Pdt. Slamet Waluyo menyuarakannya. Diksi sangat
tepat, “Jangan sampai kelemahembutan hanya sebagai AKSESORIS. Jadikan kelemahlembutan
sebagai SPAREPART kehidupan, meski mahal dan sulit, namun tetap diupayakan,
karena tanpa sparepart, sesuatu tidak akan pernah hidup.
Belajar
dari Kisah Yeremia dan Hananya, mari saat ini kita berusaha mengikis spirit
Hananya, yang diagungkan Cuma kesenangan kamuflatif, namun mari kita melompat
ke “jalur Yeremia”, yang meski harus menempuh perjalana sulit, namun itu yang
dikehendaki Tuhan. Siapa saja kita, selalu diperhadapkan pada spiritualitas
Yeremia vs Hananya, dan soal pilihan kembali kepada pribadi masing-masing.
Salam
SPAREPART!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar