JADILAH NOMOR SATU

Sabtu, 27 Juni 2020

LEMAH LEMBUT DALAM PERSPEKTIF “DUEL” HANANYA VS YEREMIA Yeremia 28:5-9

            



Paham salah dan Salah Paham soal konsep dan praktik Lemah Lembut masih langgeng dan subur sampai sekarang. Bahasa itu, Lemah Lembut, meskipun bahasa universal, namun sepertinya sudah dikapling oleh gereja, sebagai bahasanya, dalam istilah keren bisa dinamakan “The Language of Belonging”. Sangat menari merefleksikan pemaparan kotbah Pdt. Slamet Waluya (GKJ Bringin), yang dengan jelas dan tegas memilah atau membedakan pengertian soal Lemah Lembut sebagai  “Sparepart” kehidupan dengan Lemah Lembut ssebagai “aksesoris” kehidupan. Soal saudara (setelah membaca tulisan ini mau memilih yang mana atau mengindentifikasi diri di posisi mana, silakan, itu bukan urusan saya..

 

Tulisan refleksi hari ini (minggu 28 Juni 2020) akan mencoba membandingkan  konsep Lemah Lembut –seperti yang  saya paparkan di atas- dengan narasi Alkitab. Karena salah satu bacaan leksionari hari ini adalah Yeremia pasal 28 ayat 5-9, maka saya akan menggunakan narasi itu untuk dipakai sebagai “kacamata” yang semoga bisa menolong siapa saja yang membaca tulisan ini memahai lebih jernih. Ingat lho ya, memahami! Soal mempraktikan, ya sekali lagi, itu bukan urusan saya. Mari kita berselancar, masuk ke “ruang duel” antara Hananya dengan Yeremia. Sebelumnya, baik kalau saya secara singkat menarasikan “Curricullum Vitae” keduanya, sebagai nabi. Yeremia adalah nabi independent, istilah Pak Romi adalah nabi Partikelir. Oleh karenanya, Yeremia mencari nafkah sendiri, tidak terafiliasi dengan lembaga apapun, hanya terafiliasi dengan kebenaran Illahi. Karena Partikelir tadi, maka Yeremia berani, bahkan sangat berani mengatakan kebenaran sebagai kebenaran. Dia tidak takut dengan apapun, hanya takut terlindas kebenaran dan kebenaran itu adalah Sang Illahi sendiri.

 

Kalau Yeremia Parikelir, maka beda dengan Hananya, dia adalah nabi “plat merah”. Dia, Hananya, diangkat oleh raja,minimal pemerintah. Karena diangkat pemerintah (raja) maka aspek kemandirian Hananya bermasalah. Kebenaran hanya akan menjadi aksesoris, hanya akan muncul dalam perkataan dan sulit dalam tindakan. Ndilalau raja saat itu, tidak berperilaku seperti kehendak Allah, maka Hananya terpenjara pada “penjara structural. Karena dibayar oleh raja, maka tugas Hananya adalah menyenangkan Raja, entah itu sesuai dengan kehendak Allah atau tidak.

 

Dalam landscape “duel” mereka, Hananya menubuatkan sesuatu yang baik, yang elok, yang indah dan yang menyenangkan raja, meskipun kondisi factual tidak demikian. Hananya tidak ingin mengabdi ada kebenaran, ia ingin berbakati pada yang membayarnya.Hananya pasti takut mengatakan kebenaran yang itu tidak sesuai dengan keinginan raja. Ini beda dengan  Yeremia, karena dia mandiri atau Partikelir tadi, Yeremia punya kebebasan yang luarbiasa. Karena ketidaktergantungannya dengan siapapun (hanya pada kebenaran), maka Yeremia berani mengatakan yang sebenarnya. Yeremia paham akan resiko yang menantinya di waktu yang hendak terjelang.

Lalu apa salah seperti Hananya menubuatkan sesuatu yang baik? Jawabnya TIDAK! Tidak ada yang salah, namun mengatakan kebaikan di tengah kesalahan adalah kebohongan. Ini sama seperti memberikan harapan petani akan panen satu ton Porang, meski hanya menanam satu kg bibit.  Salah besar!

Yeremia berani mengatakn tidak, untuk sesuatu yang memang tidak. Yeremia mengatakan salah untuk sesuatu yang salah, meski akibatnya dia dimusuhi,dibenci dan (mungkin) ditinggalkan.

 

Refleksi

Spirit “Duel Yeremia vs Hananya”, masih langgeng hingga saat ini, bahkan juga di dalam gereja. Dengan sangat jelas, Pdt. Slamet Waluyo menyuarakannya. Diksi sangat tepat, “Jangan sampai kelemahembutan hanya sebagai AKSESORIS. Jadikan kelemahlembutan sebagai SPAREPART kehidupan, meski mahal dan sulit, namun tetap diupayakan, karena tanpa sparepart, sesuatu tidak akan pernah hidup.

Belajar dari Kisah Yeremia dan Hananya, mari saat ini kita berusaha mengikis spirit Hananya, yang diagungkan Cuma kesenangan kamuflatif, namun mari kita melompat ke “jalur Yeremia”, yang meski harus menempuh perjalana sulit, namun itu yang dikehendaki Tuhan. Siapa saja kita, selalu diperhadapkan pada spiritualitas Yeremia vs Hananya, dan soal pilihan kembali kepada pribadi masing-masing.

 

Salam SPAREPART!!

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar