Di dunia politik di Indonesia, sempat ada sebuah
ungkapan, “Jika ingin memilih pilihan politik yang bernar, maka ambilah pilihan
yang berbeda dengan pilihan PKS”. Entah benar atau tidak ungkapan ini, saya
tidak begitu paham, namun yang hendak menjadi titik permenungan melalui renungan
minggu di penghujung Januari 2017 ini adalah bagaimana memilih sesuatu yang
berlawanan dengan pilihan awan.
Permenungan ini berpijak dari salah satu teks Alkitab
yang menjadi favorit di kalangan umat Kristen, yaitu Kotbah di bukit. Banyak penafsir
yang melihat serta menempatkan ajaran Yesus di dalam kotbah di Bukit ini
sebagai sesuatu yang sulit, yang kontroversial dan sangat sulit diterima oleh
nalar jaman. Semua yang dikatakan Yesus adalah sesuatu yang berseberangan atau
berlawanan dengan paham orang banyak. Saat dunia berpikir bahwa kebahagiaan
adalah saat kaya, maka Yesus mengajar bahwa yang bahagia itu adalah mereka yang
“miskin”, saat dunia melihat bahwa yang berbahagia itu adalah orang yang
bergembira, Yesus justru mengajar bahwa yang berbahagia itu adalah yang
berdukacita.
Semua ajaran Yesus dalam kotbah dibukit ini seolah
menjungkirbalikan paham dunia.
Gereja hidup di tengah dunia dan karenanya paham
hidupnyapun seperti pemahaman dunia. Gerejapun larut dalam paham bahwa bahagia adalah
saat menerima, saat memiliki banyak hal, saat mampu mengumpulkan harta yang
sangat banyak, namun semua itu dibongkar oleh ajaran Yesus. Namun sering kita
semua tidak menerima ajaran Yesus ini, dengan berbagai alasan, mencoba
menhindari ajaran Yesus melalui Kotbah di bukit ini.
Bacaan Injil di Matius 5 :1-12 ini mengajak kita semua
sadar, bahwa bahagia yang Yesus tawarkan adalah bahagia VERSI Yesus, bukan
bahagia versi kita atau dunia. Oleh karena itu, saatnya sekarang kita merenung,
apakah yang kita inginkan dari jalan hidup meniiti jalan Yesus ini?Apakah tetap
setia dengan paham manusiawi kita yang selalu ingin dipuaskan atau ingin
memuaskan yang lain?Jika masih berkutat dengan paham bahwa bahagia adalah saat
dipuaskan keinginannya, maka segeralah sadar, itu bukan ajaran Yesus.
Selamat Merenung..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar