JADILAH NOMOR SATU

Jumat, 27 Januari 2017

BAHAGIA VERSI YESUS



Di dunia politik di Indonesia, sempat ada sebuah ungkapan, “Jika ingin memilih pilihan politik yang bernar, maka ambilah pilihan yang berbeda dengan pilihan PKS”. Entah benar atau tidak ungkapan ini, saya tidak begitu paham, namun yang hendak menjadi titik permenungan melalui renungan minggu di penghujung Januari 2017 ini adalah bagaimana memilih sesuatu yang berlawanan dengan pilihan awan. 

Permenungan ini berpijak dari salah satu teks Alkitab yang menjadi favorit di kalangan umat Kristen, yaitu Kotbah di bukit. Banyak penafsir yang melihat serta menempatkan ajaran Yesus di dalam kotbah di Bukit ini sebagai sesuatu yang sulit, yang kontroversial dan sangat sulit diterima oleh nalar jaman. Semua yang dikatakan Yesus adalah sesuatu yang berseberangan atau berlawanan dengan paham orang banyak. Saat dunia berpikir bahwa kebahagiaan adalah saat kaya, maka Yesus mengajar bahwa yang bahagia itu adalah mereka yang “miskin”, saat dunia melihat bahwa yang berbahagia itu adalah orang yang bergembira, Yesus justru mengajar bahwa yang berbahagia itu adalah yang berdukacita. 

Semua ajaran Yesus dalam kotbah dibukit ini seolah menjungkirbalikan paham dunia.
Gereja hidup di tengah dunia dan karenanya paham hidupnyapun seperti pemahaman dunia. Gerejapun larut dalam paham bahwa bahagia adalah saat menerima, saat memiliki banyak hal, saat mampu mengumpulkan harta yang sangat banyak, namun semua itu dibongkar oleh ajaran Yesus. Namun sering kita semua tidak menerima ajaran Yesus ini, dengan berbagai alasan, mencoba menhindari ajaran Yesus melalui Kotbah di bukit ini.

Bacaan Injil di Matius 5 :1-12 ini mengajak kita semua sadar, bahwa bahagia yang Yesus tawarkan adalah bahagia VERSI Yesus, bukan bahagia versi kita atau dunia. Oleh karena itu, saatnya sekarang kita merenung, apakah yang kita inginkan dari jalan hidup meniiti jalan Yesus ini?Apakah tetap setia dengan paham manusiawi kita yang selalu ingin dipuaskan atau ingin memuaskan yang lain?Jika masih berkutat dengan paham bahwa bahagia adalah saat dipuaskan keinginannya, maka segeralah sadar, itu bukan ajaran Yesus.

Selamat Merenung..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar