“Nak, bapak minta tolong ya, kamu ke warung ya. Kamu belikan
lampu untuk mengganti lampu kamar yang mati. Bapak akan mengganti kabel yang
putus digigit Tikus. Untuk adik, sisa-sia kabel yang berserakan dibereskan ya. Dibereskan
agar rapid an ruangan ini tetap indah”, Ungkap seorang bapak, saat membenarkan
lampu kamar di rumahnya yang rusak karena konsleting. Dua anaknya diajak
terlibat, selain demi kelancaran pekerjaannya, juga sebagai media pendidikan
untuk anak-anaknya. Sebenarnya bapak ini bisa saja mengerjakan semua pekerjaan
itu sendiri,namun ada sebuah kesadaran bahwa memberi pendidikan tanggungjawab
sangat perlu untuk anak-anaknya.
Saat bapak ini memberikan perintah dengan bahasa santun,
yaitu meminta tolong, maka di dalamnya terkandung banyak makna. Ada makna
penghargaan kepada anak-anaknya. Penghargaan sebagai bagian dari keluarga. Ada niali
pendidikan yang uatama bahwa pekerjaan tidak selalu harus dikerjakan
sendiri,melainkan meski melibatkan banyak orang.
Narasi Injil Matius pasal 4 ayat 12-23, menceriterakan dengan
sangat indah kisah awal pelayanan Tuhan Yesus. Ada sebuah situasi bahaya, saat
gerakan kerohanian orang Yahudi menguat,yang mengakibatkan herodes kuatir,
sehingga membunuh Yohanes. Dan Yesuspun sangat paham situasi, Ia menyingkir. Yesus
sadar bahwa bahaya akan selalu mengancam dirinya, sekaligus panggilan hidup
pelayananNya. Oleh karena kesadaran yang demikian, maka Yesus memutuskan
mengajak banyak orang berkarya. Yesus memulainya dengan mengumpulkan beberapa
orang untuk dididik secara khusus. Dididik untuk mengerti akan tugasNya
sekaligus yang akan diemban penerusNya dikemudian hari.
Orang-orang yang dipilih Yesus bukan orang sembarangan,
mereka kaum mapan ekonomi. Mereka, masyarakat Kapernaum, wilayah di mana Yesus
memanggil murid-murid adalah wilayah pantai danau. Zebedeus, ayah Yohanes dan
Yakobus, adalah pengusaha ikan, Andreas dan Petrus adalah pebisnis ikan yang
cukup mapan. Mereka yang diajak Yesus untuk melanjutkan pekerjaan Yesus. Sebelum
itu, mereka yang dipanggil, diajari selama kurun waktu tertentu, untuk mencapai
tingkat kemapanan spiritual dan relasi social. Yesus sadar bahwa kebersamaan
dalam bekerja akan memudahkan sebuah pekerjaan dikerjakan.
Jika kita bisa memetik pesan dari renungan ini, tentunya
gereja di kemudian hari tidak akan mengalami kesulitan untuk mencari
kader-kader demi pekerjaan mulia yang sudah diawali oleh Tuhan Yesus. Kesulitan
gereja mencari kader untuk diajak bekerja demi pekerjaan Allah adalah kegagalan
gereja memberikan pemahaman yang memadai kepada warga gereja dan sekaligus juga
merupakan kemalasan berpikir dari warga gereja itu sendiri. Gagal memahami
betapa pentingnya melakukan pekerjaan secara bersama-sama demi kebaikan
bersama.
Seperti para murid yang dipanggil Yesus, kitapun
demikian. Kita dipanggil Yesus untuk hidup bersamaNya, sekaligus belajar akan
pekerjaanNya dan juga melanjutkan semua pekerjaanNya. Maka, pertanyaannya
adalah, sangguh dan beranikah kita meneladani para murid Yesus?
Selamat Merenung
Tidak ada komentar:
Posting Komentar