JADILAH NOMOR SATU

Jumat, 20 Januari 2017

DIAJAK MENGERJAKAN PEKERJAAN SANG GURU



“Nak, bapak minta tolong ya, kamu ke warung ya. Kamu belikan lampu untuk mengganti lampu kamar yang mati. Bapak akan mengganti kabel yang putus digigit Tikus. Untuk adik, sisa-sia kabel yang berserakan dibereskan ya. Dibereskan agar rapid an ruangan ini tetap indah”, Ungkap seorang bapak, saat membenarkan lampu kamar di rumahnya yang rusak karena konsleting. Dua anaknya diajak terlibat, selain demi kelancaran pekerjaannya, juga sebagai media pendidikan untuk anak-anaknya. Sebenarnya bapak ini bisa saja mengerjakan semua pekerjaan itu sendiri,namun ada sebuah kesadaran bahwa memberi pendidikan tanggungjawab sangat perlu untuk anak-anaknya.
Saat bapak ini memberikan perintah dengan bahasa santun, yaitu meminta tolong, maka di dalamnya terkandung banyak makna. Ada makna penghargaan kepada anak-anaknya. Penghargaan sebagai bagian dari keluarga. Ada niali pendidikan yang uatama bahwa pekerjaan tidak selalu harus dikerjakan sendiri,melainkan meski melibatkan banyak orang.
Narasi Injil Matius pasal 4 ayat 12-23, menceriterakan dengan sangat indah kisah awal pelayanan Tuhan Yesus. Ada sebuah situasi bahaya, saat gerakan kerohanian orang Yahudi menguat,yang mengakibatkan herodes kuatir, sehingga membunuh Yohanes. Dan Yesuspun sangat paham situasi, Ia menyingkir. Yesus sadar bahwa bahaya akan selalu mengancam dirinya, sekaligus panggilan hidup pelayananNya. Oleh karena kesadaran yang demikian, maka Yesus memutuskan mengajak banyak orang berkarya. Yesus memulainya dengan mengumpulkan beberapa orang untuk dididik secara khusus. Dididik untuk mengerti akan tugasNya sekaligus yang akan diemban penerusNya dikemudian hari.
Orang-orang yang dipilih Yesus bukan orang sembarangan, mereka kaum mapan ekonomi. Mereka, masyarakat Kapernaum, wilayah di mana Yesus memanggil murid-murid adalah wilayah pantai danau. Zebedeus, ayah Yohanes dan Yakobus, adalah pengusaha ikan, Andreas dan Petrus adalah pebisnis ikan yang cukup mapan. Mereka yang diajak Yesus untuk melanjutkan pekerjaan Yesus. Sebelum itu, mereka yang dipanggil, diajari selama kurun waktu tertentu, untuk mencapai tingkat kemapanan spiritual dan relasi social. Yesus sadar bahwa kebersamaan dalam bekerja akan memudahkan sebuah pekerjaan dikerjakan.
Jika kita bisa memetik pesan dari renungan ini, tentunya gereja di kemudian hari tidak akan mengalami kesulitan untuk mencari kader-kader demi pekerjaan mulia yang sudah diawali oleh Tuhan Yesus. Kesulitan gereja mencari kader untuk diajak bekerja demi pekerjaan Allah adalah kegagalan gereja memberikan pemahaman yang memadai kepada warga gereja dan sekaligus juga merupakan kemalasan berpikir dari warga gereja itu sendiri. Gagal memahami betapa pentingnya melakukan pekerjaan secara bersama-sama demi kebaikan bersama.
Seperti para murid yang dipanggil Yesus, kitapun demikian. Kita dipanggil Yesus untuk hidup bersamaNya, sekaligus belajar akan pekerjaanNya dan juga melanjutkan semua pekerjaanNya. Maka, pertanyaannya adalah, sangguh dan beranikah kita meneladani para murid Yesus?
Selamat Merenung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar