FOKUS
PADA PERTOBATAN
Manusia
selalu berpikir dalam dua ketegangan, atas-bawah, jauh-dekat,salah-benar,
surga-neraka. Cara berpikir demikian selalu mengakibatkan korban. Yang salah
akan selalu mendapatkan hukuman, yang benar akan selalu mendapatkan anugerah
atau pahala. Dalam keadaan seperti ini, sebuah peristiwa pasti akan dilihat
dari perspektif ini. Kekurangan, kelaparan,penderitaan akan dilihat sebagai
akibat dari salah atau dosa, sementara kesehatan, ketenangan dan kekayaan
dilihat sebagai anugerah.
Yesus
dengan sangat tegas menolak cara berpikir seperti ini. Dalam Lukas pasal 13
ayat 1-13, sangat tegas Yesus menunjukkan penolakan terhadap konsep berpikir
ini.
|
"Sangkamu orang-orang Galilea ini lebih besar
dosanya dari pada dosa semua orang Galilea yang lain, karena mereka mengalami
nasib itu?
|
Jawaban
itu ditujukan kepada orang banyak yang mndatangiNya
untuk memperoleh pembenaran atas apa yang dipikirkan mereka. Inilah penyakit
manusia, dan juga orang beragama, selalu meminta legitimasi atas konsep atau
cara berpikir mereka. Untungnya Yesus menolak konsep berpikir seperti itu. Menurut
Yesus, keberadaan hidup jasmaniah tidak berbanding lurus dengan pola hidup
imaniah. Dalam hal ini yang Yesus pentingkan adalah PERTOBATAN. Pertobatan yang sejati, yang benar, yang sejalan dengan
kehendak Tuhan. Pertobatan apakah itu? PERTOBATAN
YANG MENGHASILKAN BUAH.
Mengapa
hal itu yang ditekankan Yesus?Karena sering kata-kata pertobatan hanya sebagai
ungkapan biasa tanpa memaknai, hanya kata-kata manis belaka namun tiada
menghasilkan buah. Perumpamaan tentang pohon ara yang tidak berbuah semakin
menegaskan pesan Yesus terkait pertobatan yang sejati,yang menghasilkan buah
itu. Dalam pandangan Yesus, pertobatan merupakan fokus utama kehidupan manusia.
Yesus tidak menolak ritus atau kesalehan agamawi, karena sering kesalehan itu
hanya wujud kemunafikan.
Dalam
narasi selanjutnya, Yesus memberi teladan bahwa pertobatan dengan tindakan
sangat penting. Tindakan nyata itu melintasi aturan-aturan agama,karena Yesus
memberi teladan dengan memberi contoh penyembuhan di hari Sabbat. Dalam konep
kesalehan yahudi, sabbat adalah waktu untuk istirahat total, namun Yesus
mendobraknya. Yesus memberi teladan seperti apa pertobatan yang menghasilkan
buah,dan juga memberi waktu untuk “Pohon
ara” yang belum berbuah itu berbuah. Tinggal kita sebagai “Pohon Ara-Pohon Ara”
jaman sekarang, sadarkah bahwa waktu yang ada pada kita sejatinya kesempatan
untuk berbuah, sudahkah kita berbuah?
Selamat
Melakukan Pertobatan Sejati
Tidak ada komentar:
Posting Komentar