JADILAH NOMOR SATU

Jumat, 26 Februari 2016

renungan minggu 28 feb 16

FOKUS PADA PERTOBATAN

Manusia selalu berpikir dalam dua ketegangan, atas-bawah, jauh-dekat,salah-benar, surga-neraka. Cara berpikir demikian selalu mengakibatkan korban. Yang salah akan selalu mendapatkan hukuman, yang benar akan selalu mendapatkan anugerah atau pahala. Dalam keadaan seperti ini, sebuah peristiwa pasti akan dilihat dari perspektif ini. Kekurangan, kelaparan,penderitaan akan dilihat sebagai akibat dari salah atau dosa, sementara kesehatan, ketenangan dan kekayaan dilihat sebagai anugerah.

Yesus dengan sangat tegas menolak cara berpikir seperti ini. Dalam Lukas pasal 13 ayat 1-13, sangat tegas Yesus menunjukkan penolakan terhadap konsep berpikir ini.
"Sangkamu orang-orang Galilea ini lebih besar dosanya dari pada dosa semua orang Galilea yang lain, karena mereka mengalami nasib itu?
Jawaban itu ditujukan kepada orang banyak yang  mndatangiNya untuk memperoleh pembenaran atas apa yang dipikirkan mereka. Inilah penyakit manusia, dan juga orang beragama, selalu meminta legitimasi atas konsep atau cara berpikir mereka. Untungnya Yesus menolak konsep berpikir seperti itu. Menurut Yesus, keberadaan hidup jasmaniah tidak berbanding lurus dengan pola hidup imaniah. Dalam hal ini yang Yesus pentingkan adalah PERTOBATAN. Pertobatan yang sejati, yang benar, yang sejalan dengan kehendak Tuhan. Pertobatan apakah itu? PERTOBATAN YANG MENGHASILKAN BUAH.
Mengapa hal itu yang ditekankan Yesus?Karena sering kata-kata pertobatan hanya sebagai ungkapan biasa tanpa memaknai, hanya kata-kata manis belaka namun tiada menghasilkan buah. Perumpamaan tentang pohon ara yang tidak berbuah semakin menegaskan pesan Yesus terkait pertobatan yang sejati,yang menghasilkan buah itu. Dalam pandangan Yesus, pertobatan merupakan fokus utama kehidupan manusia. Yesus tidak menolak ritus atau kesalehan agamawi, karena sering kesalehan itu hanya wujud kemunafikan.

Dalam narasi selanjutnya, Yesus memberi teladan bahwa pertobatan dengan tindakan sangat penting. Tindakan nyata itu melintasi aturan-aturan agama,karena Yesus memberi teladan dengan memberi contoh penyembuhan di hari Sabbat. Dalam konep kesalehan yahudi, sabbat adalah waktu untuk istirahat total, namun Yesus mendobraknya. Yesus memberi teladan seperti apa pertobatan yang menghasilkan buah,dan juga  memberi waktu untuk “Pohon ara” yang belum berbuah itu berbuah. Tinggal kita sebagai “Pohon Ara-Pohon Ara” jaman sekarang, sadarkah bahwa waktu yang ada pada kita sejatinya kesempatan untuk berbuah, sudahkah kita berbuah?


Selamat Melakukan Pertobatan Sejati

Tidak ada komentar:

Posting Komentar