JADILAH NOMOR SATU

Kamis, 18 Februari 2016

renungan untuk minggu 21 februari

Makna Tangisan Yesus
Lukas 13;31-35

Pernahkah saudara-saudara semua cermat  membaca Alkitab dan kemudian mendata seberapa banyak Yesus menangis?Atau juga menemukan Yesus Tertawa terpingkal-pingkal?Bahkan pernahkan saudara menemukan laporan Alkitab tentang Yesus yang tersenyum?Okelah, kalau memang belum pernah, tidak mengapa. Dalam renungan minggu ini, kita diajak untuk merenungkan makna tangisan Yesus. Apakah Yesus menangis karena beliau cengeng?Sepertinya tidak, karena di Alkitab hanya ada  dua laporan tentang Yesus yang menangis, satunya lagi saat kematian Lazarus. Lalu mengapa Yesus Menangis?Orang menangis biasanya karena kesedihan, meski tidak jarang juga karena kebahagiaan.

Narasi  di Lukas 13:31-35 memang tidak berkisah secara eksplisit tentang Yesus yang menangis. Namun dari nada dan kalimat yang dituliskan Lukas, terkhusus ayat 34, saya menduga bahwa Yesus sedang menangis, paling tidak sedang tenggelam dalam kepiluan yang mendalam. Mungkin baik ditelusuri lagi tentang apakah benar Yesus menangis atau tidak ini dalam sarasean-sarasean. Renungan ini hendak mengajak kita semua melihat apa yang menyebabkan Yesus begitu masgul terhadap Yerusalam. Semua orang Yahudi berpandangan bahwa Yerusalemlah pusat agama,pusat kebesaran iman,pusat segala yang baik dari Allah hadir. Namun Yerusalem jugalah yang membunuh banyak Nabi-nabi, di Yerusalem jugalah kejahatan terjadi. Ini yang membuat Yesus begitu pilu menangisi Yerusalam. Peringatan para murid bahwa Herodes akan membunuhNya semestinya membuat Yesus mundur, namun Yesus sadar akan tujuan hidup dan panggilanNya. Yesus tetap maju untuk menghadapi penderitaan. Perlu disadari bersama bahwa tangisan Yesus bukan karena penderitaan yang akan menghadang namun karana kedegilan Yerusalem.

Gereja dipanggil juga untuk menjadi Pahlawan, minimal pejuang perdamaian. Namun seringkali justru gereja sibuk dengan intrik,sibuk dengan konflik,sibuk dengan gesekan-gesekan.  Gereja sibuk dengan egoisme kelompok-kelompok yang membuat Perdamaian itu tidak terwujud, yang membuat damai sejahtera itu tidak terasakan oleh seluruh dunia. Jangan-jangan sebenarnya tangisan Yesus itu juga ditujukan kepada GKJ, gereja kita?Wah kalau seperti itu, marilah di masa minggu sengsara ini kita bertobat, biar abu yang pernah ada di dahi kita itu bermakna. Ayolah kita bertobat, agar Yesus tidak menangis karena kita..

Salam..


Tidak ada komentar:

Posting Komentar